Sabtu, 19 Oktober 2019

Tentang Rindu (Part 1)

saling peduli
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5754671623520109027#editor/target=post;postID=2251866924626131617;onPublishedMenu=template;onClosedMenu=template;postNum=0;src=link

Malam telah berlalu, bintang kian meredup. Matahari memancarkan sinarnya kembali untuk kehidupan yang lebih baik.
Seorang gadis bernama Tiara Putri Ramadhani , berusia 14 tahun. Berasal dari kota surabaya. Setelah lulus sekolah menengah pertama,dia diminta orang tuanya untuk melanjutkan sekolah di salah satu Madrasah Aliyah Pondok Pesantren yang ada dikota tuban. Hari demi hari telah dia lewati dengan bersekolah dan mengikuti kegiatan di pondok pesantrennya.  Setiap seminggu sekali dia selalu mendapat telepon dari kedua orang tuanya terutama sang ayah yang justru hampir setiap hari menanyakan bagaimana kabar tiara.
“Tiara” panggil Eva, temannya.
 “Iya ada apa va?”
“Itu ra kamu dipanggil sama Ustadzah Rina, ada telepon dari ayah mu”
“Oh iya iya aku kesana, terima kasih va” ucap tuara sambil berlalu meninggalkan eva dan menuju ke ruangan ustadzah yang memanggilnya tadi.
Sesampainya tiara di ruangan ustadzahnya.
“Assalamualaikum “ tiara membuka pintu sambil mengucap salam.
“waalaikumsalam, sini masuk tiara, ini kamu telepon lagi ayahmu ya” ucap ustadzah rina sambil memberikan handphone nya ke tiara.
Tiara pun menelepon kembali ayahnya.
“Halo assalamualaikum yah” sapa tiara dengan suara khas nya yang cempreng
“halo waalaikumsalam nak, gimana kabar nya nak? Uang jajan nya masih ada? Kalok habis, besok dikirim ayah lagi” pertanyaan ayahnya yang bertubi-tubi membuat tiara merasa senang karena ayahnya yang sangan perhatian kepadanya
“Hehe, Alhamdulillah yah tiara sehat sehat disini, uang jajan nya juga masih banyak yah, tiara jarang beli apa apa, kecuali makanan ringan hehe” ungkap tiara disertai dengan tawa lepasnya.
“Ya Alhamdulillah nak, di sana yang nurut ya, belajar yang rajin, tidur nya jangan malem-malem biar bangunnya nggak kesiangan, kalau ada apa-apa langung telepon ayah ya nak”
“Hehe iya yah, insyaallah, rasanya pingin setiap hari tiara cerika ke ayah sama ibu tentang keseharian tiara disini, tapi pasti nggak mungkin bisa sesering itu yah hehe” curhat tiara dengan suara yang bergetar dan tanpa sengaja air matanya menetes.
“Huuust anak nya ayah ga boleh cengeng, ya udah nak, ayah tutup dulu telponnya, ayah mau lanjut kerja shift malam nya, habis ini langsung tidur istirahat ya!” perintah sang ayah
“Hehe iya yah siap laksanakan, salam buat ibu sama adek dirumah yah, assalamualaikum ayah”
“Iya nak, waalaikusalam” telepon pun dimatikan oleh sang ayah.
Setelah mengembalikan ponsel tersebut kepada ustadzahnya, tiara langsung menuju kekamar untuk beristirahat.

Setiap malam sebelum tidur dia selalu memikirkan orang tuanya yang ada dirumah, tak jarang air matanya menetes membasahi pipi chubby nya, dikarenakan dia merindukan hal yang selalu dia lakukan bersama orang tua dan adik-adiknya dirumah.

Bersambung......

10 komentar:

  1. Bagus..kutunggu episode berikutnya ya. 😊

    BalasHapus
  2. Masha Allah....
    Lanjutkan cerbungnya 😍😍😍

    BalasHapus
  3. Ceritanya bagus kakak,, ditunggu selanjutnya..😍😍

    BalasHapus
  4. Mohon maaf. Sedikit Kritikan dari saya. Cerbungnya bagus, penulisan kata/kalimatnya sesuai, penempatan tanda bacanya sudah pas. Hanya saja untuk penulisan nama orang, tempat, kota dll sebaiknya diawali dengan huruf kapital.
    Semangattt Sis. 💪

    BalasHapus
  5. Terima kasih teman teman untuk masukannya 🙏🤗

    BalasHapus
  6. Yaampun kakak😌 mau dong kalau ceritanya dilanjut lagi

    BalasHapus

Tentang Rindu (Part 4)

      https://www.arah.com/       Pukul 17.00 WIB, perjalanan pun dimulai, membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam untuk sampai di Surab...