Minggu, 29 Desember 2019

Tentang Rindu (Part 4)

Hasil gambar untuk gambar ayah dan anak perempuan berhijab

      Pukul 17.00 WIB, perjalanan pun dimulai, membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam untuk sampai di Surabaya, waktu buka puasa telah tiba, mereka berbuka puasa dengan makanan yang dibawakan oleh bu nyai tadi, setelah selesai makan, mereka mampir di salah satu masjid utuk melaksanakan kewajiban sholat maghrib. Perjalanan dilanjut, tiara sangat menikmati perjalanan nya, yang dia pikirkan hanya perasaan 
Pukul 21.00 WIB mobil mereka telah sampai di sebuah rumah, tapi dirumah itu sangat banyak sekai orang-orang yang datang, lampunya tyang terang benderang, menandakan didalam rumah itu ada sebuah acara, entah acara apa. Tiara pun bingung, “kenapa mobil ini berhenti di depan rumah ini, ini bukan rumah sepupunya, tapi ini rumah neneknya” batin tiara.Ditambah lagi dia melihat mobil ayahnya yang rusak dibagian depan, ada sebuah ambulans yang juga berhenti di depan rumah tersebut, menanambah kebingungan tiara menjadi tambah besar. Tiara takut jika ada hal yang terjadi pada  ayah dan ibunya, tiara berharap semua yang dia pikirkan itu tidak terjadi.
“Ustadzah, kok berhentinya di rumah nenek tiara, rumah nya Zahra masih diujung sana” tanya tiara dengan perasaan yang sangat bingung, hatinya yang tiba-tiba merasa sakit, kakinya yang tiba-tiba lemas, dan tenpa sengaja air mata jatuh membasahi pipi tiara.
“Tiara harus sabar ya” Jawab ustadzah tiara dengan gemetar seperti menahan tangis.
Dengan kaki yang sangat lemas, tiara pun turun dari mobil dibantu oleh pamannya, seketika pamannya juga memeluk tiara, menambah ketakutan tiara akan hal yang dia pikirkan, tangis tiara pun pecah dipelukan pamannya.
            Tiara dituntun untuk masuk kedalam rumah, di dalam rumah itu ada satu keranda jenazah yang masih kosong, di pojok sudut rumah tiara melihat ibu dan adiknya yang nampak pucat seperti orang yang telah menangis, tiara masih berfikir keras “untuk siapa keranda kosong itu?”.  Seketika tangis tiara pun pecah ketika ada seseorang yang mengatakan sesuatu bahwa ayah tiara sudah tiada. Pertahanan tiara pun roboh. dengan kaki yang masih lemas, tiara dituntun oleh bibinya untuk melihat jenazah ayahnya yang sudah di pakaikan kain kafan itu,  tiara sangat histeris setelah mengetahui kenyataan yang telah dia lihat saat itu, orang yang salalu mengakhawatirkan dirinya, orang yang selalu dia tunggu kedatangannya, orang yang selalu memberinya semangat, orang yang selalu membelanya saat tiara ditegur oleh ibunya, kini orang itu telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Hal yang tidak pernah dia inginkan sama sekali dalam hidupnya, ketika salah satu harga berharganya telah diambil kembali oleh sang pemilik yang sesungguh-Nya.

26 Oktober 2019, genap 4 tahun sudah ayah tiara pergi, yang bisa dia lakukan adalah mendoakan agar Alm ayahnya bahagia di sisiNya. 

Tamat...

Sabtu, 02 November 2019

Tentang Rindu (Part 3)

                                                  Hasil gambar untuk gambar keluarga
http://www.capitallifesyariah.co.id/pages/solusi_individu_detil/id/4

Sabtu, 24 oktober 2015, tiara bertemu dengan pamannya yang juga orang tua dari sepupunya  bernama Zahra yang juga menempuh pendidikan di tempat yang sama  dengan tiara, pada hari itu paman tiara bermaksud menjemput putrinya Zahra pulan untuk melaksanakan pengobatan di salah satu rumah sakit. Tiara pun menitip salam untuk ayah dan ibunya dirumah.
Senin 26 oktober 2015, tiara melakukan aktivitas seperti biasanya, tidak ada sama sekali keganjalan yang dia rasakan dalam hatinya, sampai sore hari pun tiba, sepulang tiara dati dari sekolah madrasah diniyah nya, tiara langsung dicari oleh kakak kelasnya yang juga satu kamar dengan tiara.
“Tiara, sudah selesai? Tanya kak Diana memastikan.
“Sudah kak, ini aku mau keluar beli makanan ringan buat buka puasa nanati kak” jawab tiara.
“Oalah, kamu sedang puasa, yasudah habis beli makanan ringan, nanti kamu siap-siap ya! Mau diajak pak fakhri menjenguk sepupumu Zahra yang habis oprasi kemarin, bawa baju yang banyak ya, karna kamu nanti akan menginap disana” Ucap kak Diana dengan suara yang sedikit bergetar, entah kenapa
“Oh iya kak, kalau begitu aku keluar sebentar ya kak”

Sepulang tiara dari toko, tiara pun langsung bersiap-siap untuk pergi menjenguk sepupunya itu, sebuah senyuman pun selalu merekah di wajahnya, satu sisi dia sangat senang karena dia berpikir akan bertemu dengan orang tuanya disana. Dan ternyata tiara kesana tidak hanya bersama  pak fakhri, tetapi juga ditemani oleh 2 teman dekat, dan 3 ustadazah nya. Saat mereka berpamitan pada ibu nyai pengasuh pondok pesantren tersebut, bu nyai juga membawakan mereka makanan untuk dimakan saat buka puasa di mobil nanti, beliau juga memeluk tiara dengan mata yang berkaca-kaca, seperti ada air mata yang akan keluar dari mata beliau, tiara pun bingung akan hal itu. apa yang sebenarnya terjadi?

Bersambung...

Minggu, 27 Oktober 2019

Tentang Rindu (Part 2)

rimbysuccess.wordpress.com


Kerinduan tiara untuk orang-orang tersayangnya dirumah selalu bertambah dan tidak akan pernah berkurang. Disini dia benar-benar diajarkan bagaimana rasanya jauh dari orang orang terdekatnya, dan dia harus beradaptasi lagi dengan orang pada awalnya tidak dia kenal sama sekali. Seiring berjalannya waktu, tiara sudah mulai merasa nyaman dengan teman-teman nya yang ada disini, tema-temannya yang ramah, humoris, dan baik hati tentunya.
Setiap ayah dan ibunya menelpon tiara, tiara selalu bercerita sedikit tentang apa yang telah dia lakukan di sini, hal itu membuat ayah dan ibu tiara juga ikut merasa senang karena anaknya sulungnya yang mampu sedikit demi sedikit bersikap mandiri dan mengurangi sifat manja nya. Sudah 3 bulan tiara menempuh pendidikan di sini, dan setiap sebulan sekali ayah dan ibu tiara menjenguk tiara bersama keluarga tiara yang lainnya, betapa bahagianya hati tiara saat hari itu datang.
Pada bulan keempat, tepatnya tanggal 01 oktober 2015, tiara berulang tahun yang ke-15. Tiara selalu menunggu namaya dipanggil oleh ustadzahnya dengan alasan ayah dan ibunya menelepon dan mengucapkan selamat ulang tahun pada tiara. Sampai hari berganti pun panggilan itu tetap tidak ada, akhirnya tiara memberanikan diri untuk meminta izin pada ustadzah rina agar bisa mengubungi keluarganya yang ada dirumah.
“assalamualaikum ustadzah”
“waalaikumsalam tiara, ada apa ra?”
“Ustadzah, saya mau minta izin untuk menelepon ayah, apakah boleh ustadzah?
“Oalah iya ra boleh, tapi tunggu sebentar ya”
“Iya ustadzah, terima kasih”
Dan izin pun diberikan, tiara langsung menelepon ayahnya.
“Halo Assalamualaikum yah”
“Halo waalaikumsalam nak, ada apa kok tumben telepon duluan”
“Ayah ada dimana”
“Ayah ada dirumah, baru pulang dari shift malam nak, gimana kabar mu nak?”
“Alhamdulillah yah tiara sehat, ayah, ibu, sama adek dirumah gimana? Sehat juga kan?”
“Iya nak, Alhamdulillah sehat semua, ibu sama adik masih keluar “
“Yah, tiara tanggal satu kemarin ulang tahun lo, kok ayah nggak ngucapin selamat ulang tahun ke tiara?”
“Hehe yaampun nak, jadi kamu telpon ayah Cuma mau negur ayah gara-gara ayah nggak ngucapin ulang tahun” ungkap ayahnya sambil tertawa seperti tanpa dosa.
“Ayah kok malah ketawa sih” ucap tiara kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
“Nak nak, ayah memang lupa nak, maaf, soalnya ayah juga sedang sibuk menyelesaikan tugas akhir kuliah ayah kan”
“Tapi kan yah, paling enggak ayah nelpon tiara sebentar gitu”
“Iya nak maaf, bulan ini kalau ayah libur, ayah kesana, kamu mau hadiah apa?”
“Iya terserah ayah, yang penting harus ada coklat silverqueen nya hehe”
“Heeem kebiasaan coklat teruus, ini ibu udah datang, mau bicara sama ibu?”
“Iya yah boleh”
“Halo ra, sudah makan kan ra? Uang jajannya masih ada ra?’
“Halo ibu, Alhamdulillah bu sudah tsdi makan bareng sama temen temen, lauk telur sama sayur sop, uang nya masih kok bu, minggu depan aja ibu transfer lagi hehe”
“Ya udah ra, udah dulu ya ra, ibu mau masak, ayah udah tidur, kecapekan baru pulang dari ruamh sakit”
“Iya bu, assalamualaikum bu”
“Waalaikumsalam ra”

Telepon pun sudah ditutup, setelah mengembalikan ponsel ustadzah rina, tiara langsung kembali kekamar dan bertemu dengan teman-temannya.

Bersambung...

Sabtu, 19 Oktober 2019

Tentang Rindu (Part 1)

saling peduli
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5754671623520109027#editor/target=post;postID=2251866924626131617;onPublishedMenu=template;onClosedMenu=template;postNum=0;src=link

Malam telah berlalu, bintang kian meredup. Matahari memancarkan sinarnya kembali untuk kehidupan yang lebih baik.
Seorang gadis bernama Tiara Putri Ramadhani , berusia 14 tahun. Berasal dari kota surabaya. Setelah lulus sekolah menengah pertama,dia diminta orang tuanya untuk melanjutkan sekolah di salah satu Madrasah Aliyah Pondok Pesantren yang ada dikota tuban. Hari demi hari telah dia lewati dengan bersekolah dan mengikuti kegiatan di pondok pesantrennya.  Setiap seminggu sekali dia selalu mendapat telepon dari kedua orang tuanya terutama sang ayah yang justru hampir setiap hari menanyakan bagaimana kabar tiara.
“Tiara” panggil Eva, temannya.
 “Iya ada apa va?”
“Itu ra kamu dipanggil sama Ustadzah Rina, ada telepon dari ayah mu”
“Oh iya iya aku kesana, terima kasih va” ucap tuara sambil berlalu meninggalkan eva dan menuju ke ruangan ustadzah yang memanggilnya tadi.
Sesampainya tiara di ruangan ustadzahnya.
“Assalamualaikum “ tiara membuka pintu sambil mengucap salam.
“waalaikumsalam, sini masuk tiara, ini kamu telepon lagi ayahmu ya” ucap ustadzah rina sambil memberikan handphone nya ke tiara.
Tiara pun menelepon kembali ayahnya.
“Halo assalamualaikum yah” sapa tiara dengan suara khas nya yang cempreng
“halo waalaikumsalam nak, gimana kabar nya nak? Uang jajan nya masih ada? Kalok habis, besok dikirim ayah lagi” pertanyaan ayahnya yang bertubi-tubi membuat tiara merasa senang karena ayahnya yang sangan perhatian kepadanya
“Hehe, Alhamdulillah yah tiara sehat sehat disini, uang jajan nya juga masih banyak yah, tiara jarang beli apa apa, kecuali makanan ringan hehe” ungkap tiara disertai dengan tawa lepasnya.
“Ya Alhamdulillah nak, di sana yang nurut ya, belajar yang rajin, tidur nya jangan malem-malem biar bangunnya nggak kesiangan, kalau ada apa-apa langung telepon ayah ya nak”
“Hehe iya yah, insyaallah, rasanya pingin setiap hari tiara cerika ke ayah sama ibu tentang keseharian tiara disini, tapi pasti nggak mungkin bisa sesering itu yah hehe” curhat tiara dengan suara yang bergetar dan tanpa sengaja air matanya menetes.
“Huuust anak nya ayah ga boleh cengeng, ya udah nak, ayah tutup dulu telponnya, ayah mau lanjut kerja shift malam nya, habis ini langsung tidur istirahat ya!” perintah sang ayah
“Hehe iya yah siap laksanakan, salam buat ibu sama adek dirumah yah, assalamualaikum ayah”
“Iya nak, waalaikusalam” telepon pun dimatikan oleh sang ayah.
Setelah mengembalikan ponsel tersebut kepada ustadzahnya, tiara langsung menuju kekamar untuk beristirahat.

Setiap malam sebelum tidur dia selalu memikirkan orang tuanya yang ada dirumah, tak jarang air matanya menetes membasahi pipi chubby nya, dikarenakan dia merindukan hal yang selalu dia lakukan bersama orang tua dan adik-adiknya dirumah.

Bersambung......

Tentang Rindu (Part 4)

      https://www.arah.com/       Pukul 17.00 WIB, perjalanan pun dimulai, membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam untuk sampai di Surab...