Pukul 17.00 WIB, perjalanan pun dimulai, membutuhkan waktu kurang lebih
4 jam untuk sampai di Surabaya, waktu buka puasa telah tiba, mereka berbuka puasa
dengan makanan yang dibawakan oleh bu nyai tadi, setelah selesai makan, mereka
mampir di salah satu masjid utuk melaksanakan kewajiban sholat maghrib.
Perjalanan dilanjut, tiara sangat menikmati perjalanan nya, yang dia pikirkan
hanya perasaan
Pukul
21.00 WIB mobil mereka telah sampai di sebuah rumah, tapi dirumah itu sangat
banyak sekai orang-orang yang datang, lampunya tyang terang benderang,
menandakan didalam rumah itu ada sebuah acara, entah acara apa. Tiara pun
bingung, “kenapa mobil ini berhenti di depan rumah ini, ini bukan rumah
sepupunya, tapi ini rumah neneknya” batin tiara.Ditambah lagi dia melihat mobil
ayahnya yang rusak dibagian depan, ada sebuah ambulans yang juga berhenti di
depan rumah tersebut, menanambah kebingungan tiara menjadi tambah besar. Tiara
takut jika ada hal yang terjadi pada
ayah dan ibunya, tiara berharap semua yang dia pikirkan itu tidak
terjadi.
“Ustadzah,
kok berhentinya di rumah nenek tiara, rumah nya Zahra masih diujung sana” tanya
tiara dengan perasaan yang sangat bingung, hatinya yang tiba-tiba merasa sakit,
kakinya yang tiba-tiba lemas, dan tenpa sengaja air mata jatuh membasahi pipi
tiara.
“Tiara
harus sabar ya” Jawab ustadzah tiara dengan gemetar seperti menahan tangis.
Dengan
kaki yang sangat lemas, tiara pun turun dari mobil dibantu oleh pamannya,
seketika pamannya juga memeluk tiara, menambah ketakutan tiara akan hal yang
dia pikirkan, tangis tiara pun pecah dipelukan pamannya.
Tiara dituntun untuk
masuk kedalam rumah, di dalam rumah itu ada satu keranda jenazah yang masih
kosong, di pojok sudut rumah tiara melihat ibu dan adiknya yang nampak pucat
seperti orang yang telah menangis,
tiara masih berfikir keras “untuk siapa keranda kosong itu?”. Seketika tangis tiara pun pecah ketika ada
seseorang yang mengatakan sesuatu bahwa ayah tiara sudah tiada. Pertahanan tiara
pun roboh. dengan kaki yang masih lemas, tiara dituntun oleh bibinya untuk
melihat jenazah ayahnya yang sudah di pakaikan kain kafan itu, tiara sangat histeris setelah mengetahui
kenyataan yang telah dia lihat saat itu, orang yang salalu mengakhawatirkan
dirinya, orang yang selalu dia tunggu kedatangannya, orang yang selalu
memberinya semangat, orang yang selalu membelanya saat tiara ditegur oleh
ibunya, kini orang itu telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Hal yang
tidak pernah dia inginkan sama sekali dalam hidupnya, ketika salah satu harga
berharganya telah diambil kembali oleh sang pemilik yang sesungguh-Nya.
26
Oktober 2019, genap 4 tahun sudah ayah tiara pergi, yang bisa dia lakukan
adalah mendoakan agar Alm ayahnya bahagia di sisiNya.
Tamat...


